Bab satu
Suara perut Ite sudah mulai menganggunya “hmmmm sepertinya anak cacingcacingku sudah mulai berdemo ini,mumpung apotik sudah agak sepi ke dapur RS bentar ah” pikir Ite
“Mbak gendis aku ke belakang bentar ya” kata Ite
“oke baiklah berlama lamalah” jawab Gendhis tanpa mengalihkan pandangannya dari handphonenya
“Ada makanan apa yang di dapur malam gini, pasti mbok Ijah juga uda tidur.” Pikir Ite
Baru masuk dapur langkah Ite terhenti saat mendengar suara berisik dari kulkas. “oh god apa itu ? maling ato ... di setiap rumah sakit pasti ada kamar mayat bukan ? oh god pleasee...”pikiran Ite sudah melayang ke langitlangit dapuur, “Ite LOGIS” kata Ite pada dirinya sendiri. Tangan Ite sudah membawa sapu yang ia rampas dari ganggangnya, lalu
PLAAAAAAANG .....
Sapu itu sudah mengenangi sesuatu yang sedang mengais-ais isi kulkan
“awawaw aku manusia bukan maling atau mayat hidup, hei!!!” seru sesorang itu.
“HAH ternyata seorang manusia” sontak Ite lari dan sembunyi di bawah kolong meja dapur.
“awawaw aku manusia bukan maling atau mayat hidup, hei!!!” seru Lemo kesakitan,
“argh pusing sekali, aw sapa kamu ? berani berani memukul kepalaku kalo kamu memang gentleman satu lawan satu gak kaya tikus pecundang, so shit !” kata Lemo dengan nada emosi tapi tak ada yang menjawad dapur itu sepi dan tidak ada orang. Lemo pun berjalan meninggalkan dapur dan ia melihat sesuatu.
“ DOOORRRR” seru Lemo
“ aaaaaaAAAA ampun tuan saya tidak bermaksud apa apa kula tiyang alit” pekik Ite menunduk dengan nada ketakutan
“kamu bicara dengan bahasa apa ? tiang ali ?” kata Lemo. Ite pun mendongak dan mata mereka pun saling bertemu dan hening
“ anda siapa ? anda bukan maling ato ... ?”
“ mayat hidup ..” lanjut Lemo dengan senyum
“oo kamu anak baru ya di sini ? berdirilah mari kita berkenalan aku Lemo salah satu dokter yang sedang kelaparan disini” kata Lemo dengan ramah.
Sambil keluar dari tempat persembunyiannya “ maaf pak dokter bukan maksud saya lancang..”
“ssst jng sok formal gito de, kamu apoteker baru itu ya ?” tanya Lemo pada Ite yang masih sibuk dengan pikirannya
“ iya dok..tapi dok ...”
“kamu juga pasti lapar ? ayo kita makan di luar saja disini sudah tidak ada makanan”
“ tidak usah dok..saya..”
“ayolah sebagai salam perkenalanku aku yang traktir”.
Sambil berjalan keluar rumahsakit...
“makan di warung remangremang aja yaa, jam segini mana ada yang masi buka” kata Lemo
Tapi Ite hanya tersenyum dan menunduk.
“Namamu siapa ?’ kata Lemo sambil menunggu makanan
“Ite ...” jawab Ite singkat
“Aku Lemo, kamu jangan aneh gitu dong” kata Lemo
“gimana gak aneh ada orang yang sedang mengais-ais makanan yang aku pukul tiba-tiba mengaku-aku dokter, padahal aku sudah hampir 1bulan disini, aku sudah berkenalan dengan semua pegawai rumah sakit () disini, mulai dari officeboy sampai pak kepala rumah sakit aku sudah tau, dan sekarang manusia itu mengajak ku makan bareng di warung remang remang ini ?” kata Ite dengan perasaan jengkel yang menggebu-gebu
“lalu ?” jawab Lemo dengan tersenyum
“aku tidak mengerti dan aku feeling ku berkata kamu...” kata Ite ragu
“aku manusia jadijadian atau mayat hidup?” kata Lemo ringan
HAHAHAHAHA tawa mereka pun meledak, namun Ite masih bingung dengan pria itu yang selalu bisa membaca pikiran Ite
Lemo mendesah “pertama maaf aku mengagetkanmu saat di dapur, aku memang dokter disini Lemo Esoton, aku baru kembali dari luar kota sore tadi, sebulan terakhir aku ditugaskan rumah sakit untuk membantu korban bencana alam yang ada di jepang,” kata Lemo
Ite hanya menelan ludahnya.
“sekarang sudah jelas Rakite Moralengka)” kata Lemo
“ hah ? kok dokter tau mana lengkapku?” tanya Ite bingung
“itu mudah di administrasi rumah sakit ada,” jawab Lemo ringan
“ooh, gitu ya dok” kata Ite tersenyum lalu menunduk
“jangan pangil aku dok doong, aku gak setua yang kamu kira kali” kata Lemo,
“ hah ? lalu apa dok ? ups saya tidak mengirang anda tua kok” sahut Ite ringan sambil mengaduk-aduk mie-nya
“ panggil apa ya ? kamu orang mana ?” tanya lemo
“ jawa-banjar, ada apa ?”
“panggil aku mas aja, bahasa jawa kan mas itu”
“baiklah mas Lemo” jawab Ite tersenyum lalu menunduk
Bab dua
Ini beli waktunya pulang tapi karena apotik sudah sepi maka Ite diijinkan pulang, tapi waktu masih pagi buta sekitar jam 3 pagi, namun Ite tetap nekat pulang karena ada acara suprise ulangtahun untuk Picu teman satu flatnya. Lemo pun sudah menawarkan untuk mengantarnya namun Ite menolaknya.
Ite mempunyai dua teman di flatnya Picu dan Sandra, Picu seorang fotografer handal yang pandai masak.
Ite mendesah “mengapa harus hujan si?” sambil berlari kecil menuju emperan toko.
Dan tiba-tiba Ite pun terjatuh, saat dia sadar dia melihat seorang pria yang sedang membopong lalu dia tak sadar kan lagi.
“Ite bangun,..” kata Picu
Dan Sandra sambil memberi minyak kayu puith di hidung Ite, “kamu pasti kecapekan ..” kata Sandra
“hmmm aku dimana ? kok sudah sampe rumah?” tanya Ite bingung
“kamu tadi pingsan dijalan Ite sayaaang ...” jawab Sandra
“kamu kenapa sih, pulang sepagi itu ? agak siangan kan bisa ?” kata Picu
“eh hmm aku tadi jatuh, lalu siapa yang menolong ku ?” tanya Ite
“seorang pria ...”pikir Sandra
“hah pria, siapa ?” tanya Ite
“hmm bukan pria dan segerombol warga” jelas Sandra singkat
“ooh pria itu siapa?” tanya Ite lemas
“oh kami tidak tau” kata Picu sambil menyiapkan sarapan
“ dia ? kalian tak tau dia ?” tanya Ite
“dia siapa, te?”
“ dia yang membopongku dan sepertinya dia seorang mahasiswa fakul arsitek, hmmm dan” kata Ite
“ssst cukup Ite, mari kita makan kamu terlalu lelah,” sahut Picu
“iya Ite kita cari arsitekmu setelah kau sembuh dan membaik” kata Sandra hangat
Ite sedang termenung di depan laptopnya dan mencoba mengingat pria itu, pria yang membopongnya dini hari tadi, tangan hangatnya masi terasa di punggung Ite, pria itu seperti membawa tongkat dipungungnya atau dia penyihir ? pikir Ite, bukan dia seorang arsitek itu. Ite masih bisa merasakan bau badan pria itu, wajahnya pun Ite masih ingat walau hanya sekejap mata lalu dia pingsan lagi.
“Ite ada tamu untukmu..” kata Sandra
Sandra memang seperti ibu bagi Ite karena diantara mereka bertiga Sandra yang paling tua dan keibuan. Sandra seorang penyiar radio yang handal.
“Ite kamu mendengar ku..” suara Sandra yang sudah di sebelahnya pun menghancurkan lamunan Ite.
“eh iya, siapa ?”
“aku tidak tau te,tapi menurutku kau salah”
“salah apa?”
“seorang arsitek ? bukankah seorang dokter?” tanya Sandra dengan nada penasaran
“dokter ?” sahut Ite yang tambah penasaran
“iya, dokter muda yang tampan bukan ?”
“heh ?” Ite masih tidak mengerti maksud perkataan Sandra
“ hei kalian, ada tamu malah ditinggal gosip..”teriak Picu
“oh ya” sahut Ite, sambil berjalan mundur menatap Sandra dengan heran, Sandra hanya menggoyangkan jari telunjuknya.
“dokter Lemo ..?” kata Ite terkejut
“kamu sakit Ite..” kata Lemo hangat
“oh tidak kok dok eh mas..”jawab Ite
“bohong dok, dia tadi pulang diantar segerombolan warga dan dibopong..” cela Picu sambil memberi minuman pada Lemo
“wow hebat sekali kau Ite, sampai semua orang mau mengantarmu” kata Lemo dengan nada menyindir
“iya dokter sekitar jam 4 flat ini ramai orang ternyata hanya fansnya Ite..” sahut Picu dan bergabung
Ite hanya tersenyum dan menunduk
“tadi saya antar dia tidak mau, oh ternyata mau diantar sama warga..” kata Lemo
“uh kalian ngapain sih, aku kan juga bisa mandiri..” desah Ite
“tapi nyusahin banyak orang kan akhirnya” kata Lemo
“ aku tidak menyusahakan oranglain,kalo dokter merasa saya merepotkn dokter boleh pulang sekarang.” Kata Ite dengan mata merah, lalu berlari masuk ke kamarnya.
“loo Ite digodain gitu aja marah ?” Kata Picu heran
“bodooo biariin” sahut Ite
“sudah biarkan Picu, saya akan pulang saja..” kata Lemo seakan Lemo mengerti isi hati Ite.
Pagi itu Lemo sedang makan siang dibawah pohon rumah sakit dengan sandwichnya, dia termenung seorang diri tampak sedang memikirkan sesuatu. Lemo mendesah “sudah berapa hari dia cuti ?”
“Cuma dua hari dok,” sahut Ite yang tiba tiba ada disamping dengan membawa segelas air,
Lemo pun terkejut namun tetap terlihat santai “masuk siang, sudah sehatkah ko uda berani masuk kerja ?” tanya Lemo
“sudah dong mas, dengan obat buatanku sendri” jawab Ite yang bergaya seperti mengaduk mortir.
“pasti obat itu resep dari dokter tampan ini” sahut Lemo sambil memundurkan rambutnya bergaya ala mafia
“tampan dari mana ? mungkin pok ijah atau pasien bangsal narkotik yang lagi sakau” mereka pun tertawa bersama.
“nanti mau ikut aku ?”
“kemana mas”
“makan malam..’’
“gak mau ah,pasti mas Lemo mau pdkt sama aku kan” sahut Ite dengan gayanya tersenyum dan merunduk
“tidak, selamat bermimpi aja, kalo aku ngajak makan buat pdkt sama kamu.... aku Cuma mau nemuin seorang arsitek yang mau buat rumahku aja..”
“apa ? arsitek ?”
“iya ada apa dengan arsitek ? aku kira kamu kaget karena aku mau buat rumah” desah Lemo
“ aku mau ikut, mas boleh ?”
“iya aku kan tadi juga ngajak kamuu dik...”
“tapi aku mau, pulang dulu ya mas”
“buat apa udahlah, langsung dari rumah sakit aja, deket kok dari sini...”
“ heh ? pake seragam ini..?”
“iya, nanti ku tunggu jam 7.30 di parkiran ini, ada pasien UGD tuh aku bantuin mereka dulu” kata Lemo sambil berjalan meninggalkan Ite dan pohon itu.
07.35
Lemo berjalan ke mobilnya,
“ mas Lemo, dokter tunggu aku ikuut,” pekik Ite dari pohon itu.
“maafin aku tadi ada resep sebelum pulang ya aku buatin dulu..’’ kata Ite
“iyalah, masuk...”
Di dalam mobil mereka asyik saling bercerita tentang kehidupannya masing-masing. Sampai di resto yang dituju